Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Malang
Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Malang

Percuma Pamer Foto Anak di Media Sosial

Author : Administrator | Rabu, 15 Maret 2017 02:12 WIB

Media sosial merupakan salah satu hal yang berkembang sangat pesat beberapa tahun terakhir. Perkembangan paling mencolok dapat dilihat dari munculnya aplikasi-aplikasi baru didalamnya. Berkembangnya media sosial diiringi dengan berkembangnya perangkat elekronik terutama handphone (Hp) yang semakin hari semakin canggih. Banyak perusahaan berlomba-lomba menawarkan harga yang paling murah dengan aplikasi yang paling menarik. Salah satu aplikasi yang membuat konsumen meng-update Hp yang dimilikinya setahun terakhir ini adalah kamera, terutama kamera depan yang populer dengan nama kamera selfie.

Kecanggihan kamera dalam Hp membuat masyarakat kecanduan memotret semua obyek yang ada di sekitarnya. Salah satu obyek yang paling digandrungi masyarakat saat ini adalah balita dan anak anak. Para ibu berlomba-lomba memposting foto segala tingkah laku anaknya yang  dianggap lucu. Beberapa tahun terakhir bahkan media sosial terutama instagram dipenuhi dengan foto anak-anak dengan segala pose alami mereka. Banyaknya like dan comment membuat mereka semakin bangga dan kecanduan untuk memposting foto lagi dan lagi. Tidak hanya para ibu, remaja pun kerap kali memposting foto adik atau tetangganya yang masih balita. Mereka berlomba-lomba memamerkan berbagai ekspresi gemas yang berhasil di-jepret-nya. Tahukah kalian bahwa memposting foto balita dan anak mempunyai berbagai dampak buruk? Berikut hal-hal buruk yang bisa terjadi ketika kita memposting foto balita :

1.      Meningkatkan angka kejahatan seksual pada anak

Banyak orang tua yang terlalu asyik mempamerkan foto anaknya hingga lupa pada batasan. Tidak sedikit dari mereka bahkan yang memasang foto anak tanpa busana di media sosial mereka. Lucu, memang. Tapi ingatlah bahwa pelaku kejahatan ada dimana-mana termasuk pedofil yang banyak memanfaatkan media sosial sebagai sumber informasi dan kepuasan seksualnya.

Pada tahun 2013, Sweetie, ‘bocah virtual’ berumur 10 tahun yang ternyata merupakan bocah hasil rekayasa komputer yang dibuat sangat nyata oleh organisasi yang bergerak di bidang HAM terutama hak anak, Terre des Hommes dari Belanda berhasil ‘menangkap’ ribuan pedofilia. Tercatat 20.000 predator (pedofilia) dari  71 negara dalam kurun waktu hanya 2,5 bulan yang melakukan interaksi dengan Sweetie dengan maksud tidak senonoh. Itu artinya, ada puluhan ribu orang di luar sana (terutama di dunia maya) yang tega melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur (www.ummi-online.com).

2.      Meningkatkan angka penculikan anak

Memposting foto anak dengan menampilkan latar belakang misalkan sekolah, rumah, atau tempat-tempat lain yang sedang dikunjungi mereka membuat para penjahat dengan mudah mendapatkan akses untuk melancarkan kegiatan negatifnya.

 

Oleh karena itu, mulai dari sekarang, berhentilah memposting foto anak terlalu sering. Biarlah kelucuan dan kegemasan anak hanya menjadi rahasia keluarga.

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image